Sekolah Inklusi Terus Dikembangkan

Ester Lince Napitupulu | Latief | Selasa, 3 Mei 2011 | 19:15 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

LEMBATA, KOMPAS.com – Keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) tidak bisa menjadi andalan di daerah untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus terkendala karena lokasi SLB umumnya berada di kota, sementara para siswa tersebar di berbagai tempat.
“Sekolah juga harus menyosialisasikan kepada siswa dan orang tua agar siap menerima anak-anak berkebutuhan khusus yang akan belajar bersama anak-anak lainnya di kelas reguler”. M. Thamrin

Di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, misalnya, sekitar 27 persen anak-anak SD teridentifikasi berkebutuhan khusus. Akibat ketidaktahuan guru, para siswa tersebut tetap mendapat perlakuan sama dalam pembelajaran sehingga tertinggal dari anak-anak lainnya.

Bonefantura Solo, Kepala SD Inpres Lewoleba I, Selasa (3/5/2011), mengatakan selama ini para guru tidak pernah dibekali kemampuan untuk mengindentifikasi setiap anak. Baru tahun lalu, para guru mendapat pengetahuan soal anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurut Bonefantura, anak-anak berkebutuhan khusus yang umumnya dijumpai adalah yang lamban belajar. Di sekolah ini ada 76 anak masuk kategori lamban belajar, ada juga hiperaktif, dan memiliki gangguan penglihatan.
Alex T Making, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lembata mengatakan, di Kabupaten ini hanya ada satu SLB di ibukota, yakni di Kota Lewoleba. Di sekolah ini pun sebenarnya belum ada guru khusus.

“Padahal, dari survey baru-baru ini yang dilakukan dinas pendidikan dengan Plan International Program Unit Lembata, dan Universitas Negeri Jakarta, cukup banyak anak-anak berkebutuhan khusus. Karena itu, kami akhirnya berencana membuat sekolah reguler menjadi sekolah inklusi,” kata Alex.

Ia mengatakan, sekolah reguler yang ditunjuk menjadi sekolah inklusi nantinya harus mau menerima beragam anak-anak berkebutuhan khusus. Bukan hanya anak cacat fisik dan lemah belajar, anak cerdas istimewa juga mesti dilayani secara khusus.

M Thamrin, Program Unit Manager Plan Indonesia Unit Lembata, daerah ini perlu mengembangkan sekolah inklusi. Sebagai tahap awal, 10 dari 173 SD yang mewakili tiap-tiap kecamatan dijadikan sekolah percontohan sekolah inklusi. Plan Indonesia mendampingi dalam pelatihan dan penyiapan sekolah untuk menjadi sekolah inklusi, termasuk juga mengadakan penyesuaian bangunan fisik yang ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Sekolah juga harus menyosialisasikan kepada siswa dan orang tua agar siap menerima anak-anak berkebutuhan khusus yang akan belajar bersama anak-anak lainnya di kelas reguler. Namun, nanti ada guru pembimbing khusus yang akan memberikan pelayanan khusus bagi anak-anak tersebut supaya tidak ketinggalan dalam pembelajaran,” ujarnya.
Thamrin mengatakan, sejumlah pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas guru. Dengan demikian, pihak sekolah mampu mengidentifikasi anak-anak berkebutuhan khusus dan memberikan perlakuan terbaik terhadap mereka.

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2011/05/03/19153131/Sekolah.Inklusi.Terus.Dikembangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: