Program Sekolah Inklusi Tak Tentu Arah

Rabu, 14 Oktober 2009 | 14:46 WIB

Surabaya, Kompas – Program sekolah inklusi berjalan tidak tentu arah. Pembekalan guru dan siswa untuk menghadapi anak berkebutuhan khusus diserahkan pada kreativitas sekolah. Namun, Dinas Pendidikan Surabaya tetap berharap menambah jumlah sekolah inklusi.

Sejak tahun ajaran 2007-2008, SDN Kutisari II ditunjuk menjadi salah satu sekolah negeri yang menerima siswa berkebutuhan khusus. Saat ini, dari keseluruhan 364 siswa SDN Kutisari II, 33 di antaranya berkebutuhan khusus (diffable). Anak-anak ini tersebar mulai kelas I sampai kelas VI.

Menurut Kasiami, guru Agama SDN Kutisari II, 32 dari anak berkebutuhan khusus mengalami lambat belajar, sedangkan seorang lainnya tunadaksa.

Setelah menjadi sekolah inklusi, kata Kasiami, tidak ada perubahan apa pun, termasuk penambahan fasilitas. Bantuan media atau alat peraga untuk memudahkan pengajaran, ruang khusus, serta guru khusus untuk membantu siswa berkebutuhan khusus tidak tersedia.

Elisabeth Puspasari yang mengajar kelas II mengatakan, dua di antara 37 murid kelasnya termasuk lambat belajar. Karena belum pernah mendapat pelatihan apa pun terkait teknik mengajar siswa berkebutuhan khusus, dia bekerja sesuai pengalamannya saja.

“Kalau dituntun terus, anak-anak (berkebutuhan khusus) itu sebenarnya bisa. Tapi, sulit kalau guru hanya mengurusi mereka, kasihan yang lain,” ujar Elisabeth.

Kesulitan serupa dialami Sukron, Kepala SMAN 10. Sekolah ini juga ditunjuk menjadi sekolah inklusi sejak 2007. Ketika itu, guru-guru belum terbiasa mengajar siswa berkebutuhan khusus.

Namun, siswa berkebutuhan khusus di SMAN 10 lebih beruntung. Sekolah ini bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sehingga guru-guru bisa mendapatkan pelatihan. Setidaknya, kata Sukron, seorang guru dari setiap mata pelajaran mengikuti workshop di sekolah luar biasa milik Unesa di Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Saat orientasi, siswa lainnya juga disosialisasikan untuk menerima teman- temannya yang berkebutuhan khusus.

Selain SMAN 10, sekolah menengah inklusi lain di Surabaya adalah SMP Negeri 29. Adapun SD negeri yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi antara lain SDN Sidotopo I, SDN Kemayoran II, SDN Gayungan II, SDN Menur Pumpungan, dan SDN Klampis Ngasem V.

Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Sahudi mengakui alat peraga dan sarana untuk sekolah inklusi masih terbatas. Sebab, prioritas saat ini adalah menambah pendidikan inklusi. Penambahan sekolah inklusi dirasa lebih perlu untuk mendekatkan sekolah ke siswa berkebutuhan khusus.

Mengenai masalah pembekalan untuk guru, siswa, dan persiapan sekolah untuk menjadi sekolah inklusi, Sahudi tidak menjelaskan secara gamblang. Menurut dia, pelatihan bisa dilakukan oleh guru SLB. (INA)

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2009/10/14/14463379/Program.Sekolah.Inklusi.Tak.Tentu.Arah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: