MANAJEMEN SUMBER DAYA DALAM PENDIDIKAN INKLUSI

Dalam melaksanakan pendidikan inklusi, maka semua sumber daya yang berhubungan dengan kebutuhan anak harus dapat dilibatkan secara aktif. Oleh sebab itu, terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam komponen ini, antara lain :

a. Sekolah : saat ini sudah ada beberapa sekolah menerima keberadaan ABK di dalam kelas umum. Tetapi sikap menerima saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan beberapa penyesuaian, antara lain :

1. Modifikasi lingkungan, yang meliputi bangunan sekolah, tata letak di dalam kelas, dan lingkungan sekitar.
2. Pelatihan staf, untuk menerima perbedaan anak dan mau belajar lagi.
3. Keterbukaan akan bekerjasama dengan pihak lain yang terkait
4. Pengetahuan dan keterampilan untuk membantu tatalaksana ABK.
5. Penyuluhan kepada orang tua, yang tidak mudah karena banyak orang tua lain beranggapan bahwa sekolah umum seharusnya tidak menerima ABK karena khawatir sifat ABK akan menular pada anak mereka.
6. Sikap terhadap saudara kandung: apakah keberadaan saudara sekandung dengan ABK ini menjadi suatu keuntungan atau kekurangan bagi kakak/adik tsb.

b. Orang tua : keadaan orang tua sangat menentukan proses pembelajaran dan pencapaian kebutuhan masing-masing anak. Dalam hal ini, yang penting diperhatkan adalah hal-hal sebagai berikut :

1. Pengharapan keluarga, apa yang diharapkan dari keberadaan anak di sekolah: seperti apakah bentuk layanannya yang diharapkan Full Inclusion dan Social Mainstream?
2. Pengharapan ini sangat menentukan target pendidikan bagi anak di sekolah. target yang “ lepas dari konteks” dalam arti tidak sesuai dengan potensi yang ditampilkan anak (berlebihan), tentu akan membuat siapapun yang terlibat menjadi frustasi. Anak bahkan tidak suka belajar/sekolah. sebaliknya, target dibawah kemampuan anak akan membuat ia bosan dan juga tidak suka sekolah.
3. Kebutuhan dari anggota keluarga lain. Anggota keluarga bukan terdiri atas ABK ini saja, tetapi tentu saja menyangkut kakak/adik dan orang tua anak. Keterlibatan anak di sekolah umum, mau tidak mau akan mempengaruhi kegiatan sehari-hari seluruh keluarga. Anak harus mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua harus menunggui, kakak/adik diberi tanggung jawab mengenai kegiatan anak dirumah dan disekolah,dsb.
4. Adanya dukungan lingkungan, termasuk juga orang tua lain di sekolah tersebut (POMG). Bagaimanakah sikap mereka, apakah mendukung atau tidak. Bagaimana sikap anak lain di sekolah tersebut, apakah menerima keberadaan ABK atau tidak. Bagaimana sikap guru di luar kelas, serta sikap kepala sekolah.

c. Tenaga Profesional Terkait : tenaga profesional yang dilibatkan dalam tim untuk mendukung keberhasilan pembelajaran ABK adalh dokter, psikolog, guru pembimbing khusus, dan ortopedagog/terapis.
Peran dokter disini ( dokter anak, psikiater anak, dokter mata, THT, gizi, fisioterapi atau sesuai kebutuhan anak) amat penting karena proses belajar mengajar anak tidak akan lancar kecuali ia dalam keadaan sehat.
Peran psikolog adalah untuk memberikan gambaran profil psikologis anak, sehingga orang tua dan pihak sekolah paham kelebihan dan kekurangan anak secara menyeluruh. Gambaran profil ini dapat membantu semua pihak terkait dalam mengarahkan anak sehingga potensi aktual yang terdapat dalam dirinya dapat diberdayakan secara optimal tanpa membuat anak tertekan.

Pada umumnya ABK memerlukan guru pembimbing khusus pada masa awal penyesuaian di lingkungan kelas yang jelas berbeda dengan lingkungan terapi individual. Masalahnya tidak semua sekolah menyediakan guru pembimbing khusus dengan kualifikasi yang jelas, atau tidak semua orang tua bersedia menggunakan guru pembimbing khusus karena berbagai alasan. Guru pembimbing juga sering tidak paham sebatas mana mereka diperbolehkan membantu anak. Akibatnya, anak tergantung pada guru pembimbing khusus, guru kelas tidak berusaha kenali anak karena hampir selalu berada bersama guru pembimbing, dan pada akhirnya anak tetap menjadi “ anak bawang” karena ia tidak terlalu barbaur dengan lingkungannya.

Ortopedagog/terapis masih diperlukan meskipun ABK sudah bersekolah di sekolah umum, karena sebagian dari ABK masih memerlukan bimbingan khusus di rumah. Tugas ini biasanya dibebankan kepada terapis rumah, yaitu terapis atau guru yang bertugas untuk mengulang materi yang dipelajari di sekolah lengkap dengan generalisasinya, mempersiapkan anak akan materi yang akan datang, dan membantu anak mengkompensasi kelemahannya melalui berbagai teknik dan kiat praktis.

Sumber :
Dapa, Aldjon. Dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: