MANAJEMEN AKADEMIK DALAM PENDIDIKAN INKLUSI

Berbagai komponen manajemen akademik dalam sistem pendidikan inklusi harus dapat menyesuaikan dan memperhatikan berbagai aspek, sebagai berikut:
a. Pembelajaran Yang Ramah
Proses pembelajaran yang ramah itu essensinya ada pada seorang guru yang mampu memahami ssetiap anaknya sebagai individu yang memiliki keunikan, kemampuan, minat, kebutuhan, dan karakteristik yang berbeda-beda. Pemahaman tersebut sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi semua anak. Sebuah jawaban untuk penciptaan proses pembelajaran yang ramah adalah dengan mengadaptasi proses pembelajaran yang selama ini ada (konvensional) dengan kebutuhan setiap anak, dengan berorientasi pada pembelajaran yang senantiasa bertitik tolak pada anak, dan bukan pada pencapaian target kurikulum. Penciptaan proses pembelajaran yang ramah lebih memfokuskan pada “active learning” artinya anak diberikan keleluasaan untuk melakukan eksplorasi dan mendapatkan sumber-sumber informasi secara mudah serta lebih menekankan pada model kooperatif dan kreatif. Pembelajaran ini juga mengakar pada landasan norma dan nilainya yang jelas yaitu pemberian kesempatan kepada anak untuk dapat bekerja berdasarkan tingkat kemampuan dan perkembangannya. Terlaksananya proses pembelajaran yang ramah bagi ABK harus didasari pada pelaksanaan observasi dan assesmen yang terencana. Obervasi ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi latar belakang, riwayat perkembangan, dan riwayat kesehatan anak. Sedangkan assesmen perlu dilakukan untuk menilai kemampuan dasar yang dimiliki anak yang berkenaan dengan kelebihan dan kekurangan, faktor-faktor yang mungkin menghambat proses pembelajarannya, dan kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat dikembangkan dari anak tersebut. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa pelaksanaan observasi dan asesmen penting dilakukan oleh guru sebelum memberikan pelayanan kepada anak.
Menurut Sjorten (2003) asesmen yang baik akan memberikan berbagai informasi mengenai:
1. Fungsi dan perilaku anak yang meliputi: fungsi fisik, sosial, emosional, kognitif, komunikasi termasuk bahasa, dan fungsi akademik.
2. Lingkungan pendidikan anak meliputi: lingkungan sosial, fisik dan akademik.
3. Keterampilan-keterampilan dan batas pengetahuan anak
4. Lingkungan belajar (fisik dan sosial)
5. Framework yang tersedia baik secara nasional maupun lokal serta berbagai kondisi yang relevan lainnya seperti : kurikulum, kapasitas kelas, metode, sikap dan pengetahuan guru, waktu istirahat, aktivitas ketika santai dan melepaskan tekanan.
Idealnya asesmen ini dilakukan melalui kerjasama antara berbagai komponen yang terkait. Secara sederhana para guru pun dapat melakukannya, tetapi kuncinya adalah marilah kita melakukan asesmen untuk mengetahui secara jelas tentang kondisi anak sebelum memberikan perlakuan pada dirinya. Selain itu juga harus didasari bahwa pelaksanaan obervasi dan asesmen yang terencana, proses pembelajaran yang ramah itu perlu dilandasi oleh kurikulum yang fleksibel, dan pendekatan pembelajaran yang efektif.
b. Kurikulum dan Sistem Evaluasi yang Fleksibel
Didalam proses pembelajaran yang ramah bagi semua anak, kita harus memastikan bahwa kurikulum yang digunakan harus fleksibel dan responsive terhadap keberagaman kebutuhan semua anak dan tidak sebaliknya ( Salamanca, 1994). Adanya keleluasaan yang mendorong guru berani melakukan modifikasi terhadap materi dan alat bantu pembelajaran untuk memfasilitasi kebutuhan komunikasi, mobilitas, dan belajar anak, penilaian yang lebih terbuka dan menyangkut aspek kemampuan anak, serta menggunakan kurikulum terpadu dengan pelaksanaan pembelajaran tematik dan berorientas pada pendekatan yang luas. Dengan adanya penerapan KTSP yang pada level nasional lebih menekankan pada kompetensi dasar, sedangkan pada level lokal atau sekolah diharapkan mampu merumuskan tuntutan kompetensi yang lebih spesifik dengan sistem evaluasi yang lebih fleksibel, terdapat peluang bagi guru untuk menyususn kurikulum yang fleksibel. Sistem evaluasi yang fleksibel memiliki dua model yaitu dengan tes yang nilainya bisa kualitatif dan kuantitatif, dan penerimaan anak tanpa tes serta ujian dilakukan secara lokal bagi tingkat dasar dengan model sistem kenaikan kelas otomatis. Dengan demikian, peluang ini bisa kita manfaatkan untuk menuju pelaksanaan proses pembelajaran yang ramah bagi semua anak, karena proses pembelajaarannya senantiasa disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik setiap anak.
c. Desain Pembelajaran yang Fleksibel
Adapun desain pembelajaran yang dibutyhkan adalah pembelajaran yang mampu mengembangakan metode dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak, yang mana hal ini bisa diketahui melalui proses observasi dan asesmen yang dilkukan dengan baik sebelum, sselama, maupun sesudah proses pembelajaran yang ramah itu mampu memperkaya kemampuan semua anak tanpa ada seorang individu pun yang dirugikan. Untuk itu diperlukan beberapa pendekatan seperti berikut ini:
1) Pembelajran yang Aktif (Active Learning) Pendekatan ini memberikan bantuan kepada anak untuk menemukan berbagai peluang belajr sebagai wahana bagi dirinya untuk memperoleh pengetahuan, misalnya: anak diberi kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tema pembelajaran, baik permainan, buku, majalah, surat kabar, atau pengalaman anak itu sendiri.
2) Tujuan – tujuan yang dapat dinegosiasikan ( Negotiation of Objectives ) Ini merupakan pendekatan yang memberi peluang pada setiap aktivitas pembelajaran yang didasarkan kepada minat dan perhatian dari setiap anak. Dalam hal ini anak diobervasi dan dibelajarkan dengan minat anak tersebut. Dengan demikian rancana pembelajran ini akan dapat dirumuskan secara fleksibel.
3) Peragaan, Praktek dan Umpan Balik Pendekatan ini dapat memunculkan model-model perilaku yang memberikan peluang kepada anak untuk mencontoh dan sekaligus juga untuk mendorong anak untuk meniru, menggunakan dan sekaligus memberikan tanggapan langsung terhadap contoh-contoh model tersebut.
4) Evaluasi yang Berkelanjutan Pendekatan ini adalah salah satu bentuk evaluasi yang mendorong kemampuan penelaahan dan perefleksian anak terhadap pembelajaran yang telah dilakukan guru, serta mampu memberi gambaran tentang bagaimana anak dapat menerapkan pembelaran tersebut. Artinya ini merupakan suatu proses penilaian yang dilakukan secara terus menerus dan tidak berhenti serta terfokus pada tujuan akhir saja. Namun semua proses dilihat secara seksama, sehingga guru memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi belajr anak dari awal sampai akhir.
5) Pemberian Support Pendekatan ini dapat menolong anak untuk mampu mengambil berbagai resiko sebagai wujud tanggung jawab dari apa yang dia lakukan. Dengan demikian anak memiliki rasa percaya diri yang positif karena memperoleh dorongan yang positif pula.
Menurut Shaeffer (2002) dukungan ini harus diberikan dalam berbagai model dan bentuk, misalnya: materi pembelajran yang sesuai, lingkungan belajar yang ramah, fasilitas yang aksesible, partisipasi pemerintah, penggunaan budaya lokal, serta dukungan masyarakat lokal. Dengan cara seperti ini diharapkan guru dan anak tertolong untuk meminimalkan masalah-masalah belajar dan pembelajaran yang dihadapinya secara lebih efektif.
d. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas yang kurang tepat oleh guru dapat memberi petunjuk bahwa guru tidak konsisten dan tidak mampu menarik perhatian anak menyebabkan anak bingung dan tidak pasti. Ketika guru tidak menyampaikan harapan secara jelas sebelum pelajaran diakhiri atau menyisakan materi pelajran secara tidak terstruktur atau menangani perilaku menyimpang secara tidak konsisten, akibatnya dapat berupa penyimpangan perilaku. Jika sering muncul masalah perilaku di kelas, jelas sumber masalah tidak hanya dari murid, tetapi juga guru. sebuah diagnosa harus diadakan baik terhadap proses pembelajaran maupun lingkungan kelas. Penanganan mungkin perlu dilakukan paada seluruh situasi di kelas. Diagnosa akan menunjukkan kelemahan pengelolaan kelas yang memerlukan perbaikan dalam persiapan mengajar dan memerlukan konsultasi maupun layanan pendidikan luar biasa. Guru tidak harus merasa bersalah dalam hal ini. Tantangan pada pengelolaan kelas pada sekolah-sekolah sekarang ini memang semakin besar, dan ini berarti bahwa guru harus terus meningkatkan profesionalitas dan semakin membuka diri untuk bekerjasama dengan tenaga profesi lain. Guru yang terampil mungkin dapat menggunakan berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas. Salah satu yang terbukti efektif adalah sistem contigency contracts. Dengan sistem ini, ada perjanjian yang disepakati bersama antara guru dan anak atas setiap akibat dari setiap perilaku yang ditunjukkan, dikaitkan dengan hadiah atau hukuman. Misalnya, mulai minggu depan anak-anak tidak diijinkan lagi berda diluar kelas pada jam-jam istirahat, sebagai akibat dari perilaku beberapa anak yang menimbulkan gangguan di kelas. Apabila dalam satu jam pelajaran tidak muncul gangguan di kelas, anak akan menerima satu voucher, dan jika telah terkumpul 25 voucher, anak-anak akan diijinkan kembali beristirahat di luar kelas.

Sumber : Dapa, Aldjon. Dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: