MANAJEMEN PENDIDIKAN INKLUSI

Tema Website “ Manajemen Pendidikan Inklusi ”
Visi : Sebagai referensi bagi yang memerlukan informasi tentang manajemen pendidikan inklusif.
Misi : 1. Memberikan informasi tentang manajemen pendidikan inklusif kepada pendidik, mahasiswa, masyarakat, orang tua dan pihak-pihak yang membutuhkan melalui wordpress/blog ini.
2. Mensosialisasikan pendidikan inklusif pada sekolah reguler dan masyarakat.

Sebelum kita mengetahui manajemen pendidikan inkusif kita harus mengetahui apa itu pendidikan inklusif.

Pendidikan inklusif mulai dicanangkan pada Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh UNESCO pada tanggal 7-10 Juni 1994 di Salamanca Spanyol. Istilah inklusif berasal dari bahasa Inggris “Inclusive” yang artinya termasuk, memasukkan (Echols,2000).  Pendidikan inklusif diartikan dengan memasukkan anak berkebutuhan khusus di kelas reguler bersama anak lainnya.

Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional menyambut positif terhadap pelaksanaan pendidika inklusif. Dengan pelaksanaan pendidikan inklusif, anak berkebutuhan khusus diberikan kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah terdekat. Pendidikan inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan pendidikan bagi anak berkelainan selama ini.

Pendidikan Inklusif adalah sebuah sistem pendidikan dimana semua murid dengan kebutuhan khusus diterima di kelas regular dan mendapatkan berbagai pelayanan pendukung dan pendidikan berdasarkan kebutuhan mereka. Dalam pendidikan inklusif memerlukan sebuah manajemen pendidikan inklusif agar dapat berjalan dengan lancar.

Manajemen pendidikan inklusif merupakan proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan inklusif yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan evaluasi dengan menggunakan dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia baik personel, material, maupun spritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Perencanaan pendidikan inklusif merupakan kegiatan menetapkan tujuan serta merumuskan dan mengatur pendayagunaan manusia, keuangan, metode, peralatan serta seluruh sumber daya yang ada untuk efektifitas pencapaian tujuan pendidikan inklusif. Pengorganisasian pendidikan inklusif menyangkut pembagian tugas untuk diselesaikan setiap anggota dalam upaya pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Pengelolaan pendidikan inklusif meliputi kepemimpinan, pelaksanaan supervisi, serta pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat sehingga tujuan sekolah inklusif dapat tercapai. Evaluasi pendidikan inklusif dilakukan untuk menilai apakah segala kegiatan yang telah dilakukan telah mencapai tujuan yang ditetapkan.

B.     Landasan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif

Beberapa peraturan yang dapat digunakan antara lain:

  1. UUD 1945 (amandemen) pasal 31 ayat 1 dan 2.
  2. UU nomor 20 tahun 2003 pasal 3, pasal 5, dan pasal 32.
  3. UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 48 dan 49.
  4. UU nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat, pasal 5.
  5. PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 2.
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.
  7. Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No.380/C.C6/MN/2003 tanggal 20 Januari, perihal Pelaksanaan Pendidikan Inklusi.
  8. Deklarasi Bandung (Nasional) “ Indonesia Menuju Pendidikan Inklusi” Agustus 2004.
  9. Deklarasi Bukittinggi (Internasional) tahun 2005, tentang Pendidikan untuk semua.

C.    Karakteristik Manajemen Pendidikan Inklusif

Karakteristik Manajemen Pendidikan Inklusif adalah sebagai berikut :

  1. Melibatkan semua komponen pendidikan dalam keseluruhan proses mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan evaluasi, yaitu : guru, peserta didik, orang tua dan masyarakat.
  2. Orang tua dan masyarakat turut berpartisipasi dalam keseluruhan proses pembelajaran.
  3. Guru diberi kesempatan dan tantangan untuk belajar berbagai metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak.
  4. Guru menggunakan metode pembelajaran kooperatif yang melibatkan kerjasama antar anak dan pengajar secara interaktif.
  5. Partisipasi dan kerjasama antara semua komponen semakin ditingkatkan terutama kerjasama antara orang tua dan guru mulai dari perencanaan pembelajaran sampai pada evaluasi dan tindak lanjut.

Dengan demikian manajemen pendidikan inklusi dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa aspek antara lain, manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen sumber daya manusia, manajemen sarpras dan supervisi.

Depdiknas (2004:6) perbedaan karakteristik Pendidikan Inklusi dengan Kelas Reguler dalam tabel berikut ini:

Kelas Reguler

Kelas Inklusif

Hubungan Tedapat hubungan jarak dengan peserta didik, contoh: guru sering memanggil peserta didik tanpa kontak mata. Ramah dan hangat, contoh untuk anak tuna runggu: Guru selalu berada didekatnya dengan wajah terarah pada anak dan tersenyum.Pendamping kelas (orangtua) memuji anak tunarunggu dan membantu anak lainnya.
Kemampuan Guru dan peserta didik mempunyai kemampuan yang relatif sama. Guru, peserta didik dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda serta orang tua sebagai pendamping.
Pengaturan tempat duduk Pengaturan tempat duduk yang sama di tiap kelas (semua anak duduk dengan arah meja yang sama) Pengaturan tempat duduk yang bervariasi seperti duduk berkelompok di lantai membentuk lingkaran atau duduk di bangku bersama-sama sehingga mereka dapat melihat satu sama lain.
Materi Belajar Buku teks, buku latihan, papan tulis. Berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran, contoh : pembelajaran matematika disampaikan melalui kegiatan yang lebih menantang, menarik dan menyenangkan melalui bermain peran.Menggunakan poster dan wayang untuk pelajaran bahasa.
Sumber

Guru membelajarkan anak tanpa menggunakan sumber belajar yang lain.

Guru menyusun rencana harian dengan melibatkan anak, contoh: meminta anak membawa media belajar yang murah dan mudah didapat ke dalam kelas untuk dimanfaatkan dalam mata pelajaran tertentu
Evaluasi

Ujian tertulis terstandardisasi

Penilaian: Obervasi, portofolio, yakni karya anak dalam kurun waktu tertentu dikumpulkan dan dinilai.

Manajemen pendidikan inkusi dilaksanakan dengan melibatkan unsur yang ada yaitu anak, guru, orang tua dan masyarakat. Semua anak tanpa memandang perbedaan dilibatkan dalam proses pembelajaran. Guru juga diberikan kesempatan untuk belajar lebih banyak metode dan materi pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu orang tua dan masyarakat dilibatkan dalam pembelajaran anak di sekolah.

Hal tersebut mempertegas bahwa karakteristik manajemen pendidikan inklusi yaitu melibatkan berbagai sumber dan dukungan dari berbagai pihak, antara lain guru, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Dalam manajemen pendidikan inklusi juga membutuhkan waktu dari guru untuk mempersiapkan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Selain itu dalam pelaksanaan manajemen pendidikan inklusi membutuhkan komitmen, visi yang jelas dan pengembangan staf. Semua karakteristik tersebut dibutuhkan dalam karakterisik manajemen pendidikan inklusi.

D.    Keuntungan Manajemen Pendidikan Inklusif sebagai berikut:

1. Bagi Anak Berkebutuhan Khususa.

a. Anak akan merasa menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya.

b. Meningkatkan harga diri anak dan anak memperoleh kesempatan untuk belajar bersama teman sebaya.

2. Bagi Sekolah

a. Memperoleh pengalaman untuk mengelola perbadaan dalam satu kelas.

b. Meningkatkan rasa empati dan kepekaan terhadap keterbatasan anak.

3. Bagi Guru

a. Guru dapat mengakui bahwa anak berkebutuhan khusus juga memilki kemampuan.

b. Guru akan tertantang untuk menciptakan metode baru dalam pembelajaran.

4. Bagi Orang Tua

a. Orang tua dapat belajar lebih banyak tentang bagaimana anaknya.

b. Orang tua dapat belajar bagaimana cara membimbing anaknya dengan lebih baik di rumah  dengan menggunakan teknik yang digunakan guru di sekolah.

5. Bagi Masyarakat

a. Meningkatkan kesetaraan sosial.

b. Masyarakat menjadi lebih terlibat di sekolah dalam rangka menciptakan hubungan yang lebih baik antara sekolah dan masyarakat.

E.     Kelemahan Manajemen pendidikan inklusif sebagai berikut:

  1. Peraturan perundangan yang berlaku mensyaratkan bahwa anak berkebutuhan khusus disediakan layanan pendidikan yang bersifat kontinum.
  2. Tidak semua orang tua menghendaki anaknya yang berkelainan berada di kelas reguler bersama teman-teman seusia yang normal.
  3. Pada umumnya sekolah reguler belum siap menyelenggarakan pendidikan inklusif karena keterbatasan sumber daya pendidikannya.

Sumber :

Dapa, Aldjon. Dkk. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif. Jakarta : Departemen Pendidikan   Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: